Maaf kalo judulnya sedikit aneh, ya siapa yang mau terlahir kalau akhirnya disia-siakan coba? Sepertinya tak ada yang mau seperti itu kawan. Ndak, ini bukan tentang saya yang punya pengalaman disia-siakan *kalau menyia-nyiakan (waktu) sih sering*. Ini tentang tulisan, dan pengalaman kejiwaan saya dalam menulis (halah jiwa opooo to saaa..
).
Juga agak tersentil oleh komentar teman saya Davinna di sebuah postingannya tentang saya yang sudah jarang lagi nulis blog, saya jadi pengen sedikit curhat (ehem…
), bukan tentang perasaan, tapi tentang kejiwaan (opo yo bedanya? maaf kalo saya ngawur), tentang menulis, tentang pencurahan ide kedalam tulisan, saya mau sotoy membahas sisi psikologis penulis blog baru, baik yang baru banget atau baru nulis lagi karena dulu malu/bingung/takut mau nulis apa.
Takut? Malu? ya itu yang saya rasakan dulu, takut karena “Aduuh nih tulisan gue penting gak ya, takutnya gak ada yang baca, takut gak ada yang komentar, takut gak ada.. takut gak ada…”, teruuuss sampai kata “takut gak ada” itu beranak, bercucu, bercicit, cocot, cacat, cucut.. (halah, iya lebay, tau kok hehehe..). Ya itu perasaan gua dulu waktu awal-awal menulis, dan oh iya juga perasaan malu dan akhirnya berujung pada perasaan frustasi “Ah, sia-sia kali ya gua nulis blog kayak gini?”.
Sia-sia? Ya kembali lagi ke tulisan yang menjadi pembuka postingan saya ini, tak ada yang mau menjadi sia-sia, dan menurut saya dan pasti banyak kawan di luaran sana yang berprinsip: “Sesuatu yang telah terlahir, dan menjadi ada ke dunia ini tak ada yang sia-sia”, termasuk tulisan, tulisan saya, tulisan anda, tulisan anak TK, tulisan anak SD, tulisan profesor dan seeeeetrusnya .
Oke, mungkin menurut salah satu manusia, beranggapan kalu tulisan saya sekarang ini tak bermanfaat, tak ada artinya dan sia-sia ditulis. Tapi ingat kawan, manusia (yang bisa membaca) di dunia ini tidak hanya seluas Kampung Perepet Jengkol di Desa Bojong Kenyot sana (sumpah ini desa emang fiktif, untuk menganalogikan sesuatu yang cakupannya sempit dan maaf kalo kurang tepat analoginya
). Entah kapan, entah siapa, entah di mana suatu saat akan menganggap tulisan saya ini berarti buat dia, tidak menjadi sia-sia karena telah ditulis oleh saya.
Ya, mulai saat itu, saya berfikiran “Sabodo teuing, tulisan-tulisan aing, blog-blog aing, aya nu maca atawa henteu, kumaha aing we!”. Yaaaa..hayooo siapa yang gak ngerti artinyaaa…hehehe, oke saya translate: “Bodo amat, tulisan-tulisan gua, blog-blog gua, ada yang baca atau engga ada, terserah gua dong!”. Hehehe terdengar seperti frustasi sih emang, tapi gak lah, itu adalah curahan hati saya yang takut untuk menulis karena alasan-alasan seperti diatas itu.
Ya, postingan ini juga bukan bermaksud menggurui..aduuuh jauh atuh kalo saya disebut guru mah. Ini hanya sharing saja, untuk kawan di luar sana yang takut untuk memulai, yang malu jika isi blog-nya tidak bermanfaat dan isinya hanya curhatan doang, karena kalo boleh saya kutip secara bebas dan maaf kalo ngawur apa yang pernah dikatakan mba frozzy, “Tulisan di blog itu akan berevolusi”, tapi sampai saat ini saya masih bertanya-tanya: “Blog gua berevolusi gak ya?” hehehehe…

bisa bisa
Apanya yang bisa? hihihihi
oh tulisan lo sangat berevolusi koq.. mau bukti? sok atuh dibaca ulang postingan2 lo dulu.. *sambil ketawa setan*
Ngahahahaha monyooong.. gua ngarti kamsud luu!! hehehe.. tapi kangen nulis tentang perasaan lagi ni..hihihihihi
gue selalu ttg perasaan klo nulis bwahaha… sense of belonging my selfnya besar euy! hahaaaa
bebaas neee… yang penting nuliisss…
[...] Hargai apapun itu, sekecil apapun itu karena semua tercipta bukan untuk menjadi sia-sia. [...]
Hehe… Numpang lewat, Sa. (^_^)
hehe mangga pak Dede
ya name bilahiiiiiiii…… esorryy..bilajer